Sabtu, 17 April 2010

Kata-Kata Memang Bisa Menyakitkan

Rasa sakit yang disebabkan sebuah kata, tidak kalah dari sebilah pedang. Demikian hasil penelitian

Hidayatullah.com--Pasti Anda pernah mendengar ungkapan "lidah setajam sembilu". Maksudnya tentu bukan fisk dari lidah yang tajam, melainkan kata-kata yang diucapkan seseorang. Hasil penelitian membuktikan, memang demikian adanya.

Para ilmuwan menemukan bahwasanya membaca sederetan kata-kata yang berhubungan dengan pengalaman menyakitkan, bisa memicu reaksi bagian otak yang mengatur rasa sakit atau nyeri.

Meskipun tidak ada reaksi fisik secara langsung, ilmuwan menduga, mendengarkan kata-kata yang berkaitan dengan rasa sakit dan nyeri bisa membuat rasa itu semakin menyakitkan, karena otak sudah "disiapkan" untuk menerima dan memprosesnya.

Sebagai contoh, jika seorang dokter gigi berbicara tentang "mengebor" gigi sebelum dia benar-benar melakukannya, dokter itu sudah membuat Anda tidak nyaman.

Profesor Thomas Weiss yang memimpin penelitian itu mengatakan, "Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kata-kata itu sendiri bisa mengaktifkan matriks rasa sakit kita."

"Hasil penelitain kami menunjukkan bahwa stimulus verbal memiliki arti yang penting, lebih dari yang pernah kita sangka selama ini."

Tim peneliti Departemen Biologi dan Psikologi Klinis dari Universitas Friedrich-Schiller di Jena, Jerman, memindai otak 16 relawan dengan menggunakan fMRI (functional magnetic resonance imaging) saat mereka membaca daftar kata-kata yang muncul di layar komputer.

Beberapa kata--seperti menyiksa dan kram--dipilih, karena berhubungan dengan rasa sakit.

Sementara kata lain--seperti menakutkan dan menjijikkan--dipilih karena menimbulkan rasa negatif, meskipun tidak terkait langsung dengan rasa sakit.

Para peneliti juga memberikan beberapa kata lain yang memiliki makna positif atau netral--seperti membelai dan memeluk--sebagai faktor pengontrol.

Hasil penelitian menunjukkan, kata-kata yang terkait dengan rasa sakit memicu respon bagian otak yang memproses rasa sakit. Hanya dengan membaca deretan daftar kata saja, otak sudah langsung memberikan reaksi atas hal-hal yang memberikan rasa sakit atau penderitaan.

Profesor Weiss, seorang psikolog, yakin bahwa otak dengan cepat belajar menghubungkan kata-kata seperti "kram" dan "menjepit" dengan sensasi rasa sakit.

Dalam percobaan yang dilakukan, kata-kata itu tetap memicu reaksi otak di pusat rasa sakit, meskipun para relawan diberi pengecoh untuk mengalihkan perhatian mereka.

Maria Richter, anggota peneliti, menjelaskan. Pertama-tama pasien atau orang yang diteliti diminta membayangkan situasi yang berhubungan dengan kata-kata yang diberikan. Setelah itu mereka diberi semacam pengalih perhatian. Hasilnya, kata Richter, "Pada kedua kasus kita melihat sebuah aktivasi yang jelas dari matriks rasa sakit di dalam otak, oleh kata-kata yang berhubungan dengan rasa sakit."

Menurut para ilmuwan, bisa jadi respon itu merupakan sebuah survival instinct, di mana manusia belajar untuk menghindari rasa sakit di kemudian hari.

Mereka yakin penemuannya bisa memberikan pengaruh pada dokter, dokter gigi dan orangtua. Mengatakan kepada pasien bahwa disuntik tidak akan menyakitkan, sebenarnya hanya akan membuat pasien merasa lebih buruk.

Sama halnya jika orangtua mengatakan kepada anaknya bahwa melepas plester luka itu "tidak sakit sama sekali."

Demikian pula menyuruh orang atau pasien menjelaskan rasa sakit yang dideritanya. Menurut peneliti, hal itu bisa membuat mereka semakin menderita. [di/dm/www.hidayatullah.com]

0 komentar:

Posting Komentar

 
MINDKAMIL @2009 Gallery Template Ajah by ireng_ajah

Supported Free Money Info and Product and Service | Banner code by Code-Code-an

Best view with Mozilla Firefox